Kumpulan Contoh Cerpen Cinta Romantis Sedih Singkat Terbaru Terbaik

Cerpen Cinta: Mungkinkah Dia?

Namaku Weinsly lengkapnya Weinsly Widyagirta Sabrina. Aku biasa dipanggil Winny karena nama panggilanku yang terlalu rumit jadinya aku dipanggil Winy. Aku saat ini sekolah di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Surabaya dan aku duduk di kelas X7. Aku mempunyai 3 orang sahabat yang selalu ada buat aku, mereka yaitu Disca, Rena dan Ina. Kami sekelas tapi aku sebangku dengan Disca. Kami berteman semenjak masuk di sekolaan ini, kami juga berteman cukup baik.

Aku masih teringat masa-masa SMPku dulu yang penuh dengan cerita lucuku. Yaitu dimana aku tak bisa melupakan seseorang yang belum ku tau perasaannya, dia adalah kawan kelas sebelah. Aku juga masih mengingatnya hingga suatu hari tanpa ku sengaja aku berpapasan dengan kakak kelasku yang mempunyai wajah lumayan cakep. Setelah memperhatikan kakak itu cukup lama, aku pun segera mencari informasi tentang kakak itu. Setelah aku mendapatkan beberapa informasi dari sumber yang terpercaya ternyata kakak itu bernama Andrea atau biasa dipanggil Andrew. Dan kebetulan juga kelasnya itu tepat di sebelah kiri kelasku, spontan aku seneng banget.

Awalnya memang aku hanya naksir-naksir biasa namun lama-kelamaan aku jadi menginginkan suatu hubungan yang lebih dengan kakak itu. Meskipun aku tidak pernah ada komunikasi dengan kakak itu tapi aku tetap yakin dengan keinginanku. Setelah lama memperhatikan kakak itu tanpa ku sadari ternyata banyak temanku yang mengagumi sosok imut kakak itu. Perasaanku juga tak mau memaksakan keadaan.

Seiring berjalannya waktu aku mulai melupakan kakak itu walaupun tidak 100%. Sampai akhirnya aku bertemu dengan cowok yang tak lain adalah Aldo, yaitu cowok yang menghuni kalas sebelahku. Dia itu memiliki wajah yang sangat imut, mirip banget dengan anak yang masih SD sehingga setiap orang yang melihatnya merasa gemas. Tapi di samping aku memikirkan teman dekat kelasku itu aku juga masih memikirkan kakak itu. Lama-kelamaan aku jadi bisa ngelupain kakak itu dan tetap sama teman samping kelasku.

Suatu hari tiba-tiba temanku yang bernama Ninda menghampiri aku dan bertanya kepadaku. “Hei kamu sudah jadian sama Kak Andrew ya?” aku yang tak tau apa-apa serentak kaget. “siapa yang bilang?”
“udahlah ngaku aja, udah banyak kok yang ngomong!” sela Ninda.
“lha iya yang ngomong itu golongan siapa?” jawabku dengan wajah yang masih kaget. Tanpa menjawab tanyaku yang terakhir Ninda langsung pergi meninggalkanku dan menghampiri Disca. Semenjak saat itu aku selalu terfikir dengan kata-kata Ninda dan seolah hatiku memberontak dengan informasi tersebut. Awalnya aku tak percaya tapi karena sahabatku Disca juga ngomong seperti itu ke aku jadinya aku pun percaya. Aku tak tau mengapa dengan perasaanku hari ini seolah aku sangat membenci sosok Kak Andrew yang dulu sangat ku kagumi.

Keesokan harinya temanku Disca sudah mendapat informasi dan segera melaporkan ke aku. Ternyata selama ini Kak Andrew juga menyimpan perasaan denganku namun dia tak pernah berusaha untuk mendekatiku, malah dia bilang sama teman-temannya kalau aku itu pacarnya. Sehingga banyak kakak kelas yang mengira kalau aku itu adalah pacar Kak Andrew. Saat tau informasi tersebut perasaanku jadi gak karuan mulai dari benci, sebel, pengen marah tapi aku ada kegembiraan sih, karena dugaanku selama ini benar bahwa sesugguhnya aku mampu untuk mendapatan Kak Andrew. Semenjak itu juga aku semakin menjauh dari Kak Andrew dan kejauhanku itu sangat terlihat. Untuk menyempurnakan rasa keinginanku dalam mejauhi Kak Andrew aku juga semakin mencoba mendekati si Aldo. Hingga sering aku tertangkap basah oleh Kak Andrew saat aku saling curi pandang dengan Aldo. Kalau menurutku ya enggak apa-apa karena aku sedang tidak mau mengulang masa laluku meskipun sebenarnya aku merasa tak tega.

Karena keingin tahuanku yang semakin mendalam, suatu hari aku menemukan Aldo sedang berduaan dengan teman sekelasnya akhirnya aku mencari informasai. Kebetulan juga aku mempunyai teman cowok yang lumayan akrab denganku. Dia adalah Wiga teman Aldo juga, sehingga dengan mudahnya aku bisa mendapatkan informasi secara langsung. Setelah beberapa hari temanku mencari informasi ternyata pacar Aldo bukan anak sekolah sini dan cewek itu sepertinya tak ada hubungan yang spesial dengan Aldo. Awalnya sih kecewa tapi tak apalah kan tak ada sainganku di sini. Akhirnya aku mencari informasi sendiri tentang cewek yang akrab dengan Aldo itu. Setelah ku dapatkan beberapa informasi ternyata,
“TIDAK! itu tidak mungkin tarjadi!” ucapku dengan raut wajah emosi dan merasa tak yakin dengan yang ku dengar. Ternyata cewek yang selama ini dekat dengan Aldo adalah sabahat Tiwi, dan Tiwi itu naksir sama Aldo sehingga mereka itu saling mendekati. Emosiku semakin membara mendengar kata-kata tersebut, apa lagi setelah ku dengar nama Tiwi yang tak lain adalah sahabat SMPnya sahabat kecilku. Karena dari awal sekolah di SMA ini aku sudah tak suka dengan yang namanya Tiwi. Itu pun bermula karena Tiwi pernah merebut pacar sahabat SMPku yang tak lain adalah Carissa. Kalau aku mengulang masa lalu, ku rasa sudah tak penting lah, yang terjadi biarlah terjadi. Kecewa jelas sangat iya dan rasa benciku terhadap Tiwi juga semaki bertambah. Tak tau lagi aku menyikapi seperi apa yang jelas aku sudah terlanjur terbawa emosi.

Tapi karena aku sudah terlalu banyak kecewa jadi permasalahan ini tak begitu membebani fikiranku. Saat aku tardiam dalam lamunanku tanpa ku sadari ternyata aku sedang membayangkan sosok Kak Andrew yang telah lalu.
“kenapa aku harus ingat dia lagi sih? itu sudah tak penting lagi buatku, yang terpenting saat ini aku pengen suatu kesejukan yang bisa mendamaikan hatiku bukan untuk mengembalikanku dalam masa lalu!” ucapku menggerutu tak jelas.

Spontan temanku yang ada di sebelahku merasa aneh dengan tingkahku yang demikian. Aku tak mempedulikan mereka dan yang terpenting yang aku fikirkan bagaimana cara menghilangkan nama Kak Andrew dalam otakku. Uhh.. aku semakin lama jadi tambah pusing apa lagi nama Kak Andrew muncul kembali. Mulai saat itu nama Kak Andrew muncul di kehidupanku kembali dan aku merasa sepertinya aku memang harus kembali. Namun di sisi lain aku juga tak menyukai sifat Kak Andrew yang tak mau berusaha. Yaitu berusaha bagaimana cara Kak Andrew mendekatiku. Walaupun seperti itu tetap pilihanku berada pada Aldo meskipun masih terfikirkan dengan nama Adrew. Aku juga enggak mau berlama-lama seperti ini, serasa aku ingin mengakhiri kesendirianku namun aku juga sosok orang yang serius dan tak mau menjadi khiasan semata. Aku juga tak tau arah jalanku kemana, mungkinkah dia yang akan mengakhiri kesendrianku yang telah lama? atau mungkinkah dia hanya bayangan ilusiku yang mungkin hanya sementara? mungkin aku akan mengetahui jawaban tersebut setelah aku harus menunggu.